Catatan Kecil Dari Kota Jayapura

Jumat, Januari 11th, 2019
187 views 0 Comments

Kali ini aku ingin menulis tentang sebuah catatan kecil dari kota Jayapura, sebuah catatan yang muncul dalam pikiran ini, ketika aku pulang dari Kota tersebut. Ya, sebuah catatan kecil yang mungkin tidak terlalu penting, tapi aku ingin menulisnya.

Catatan Kecil Dari Kota Jayapura – Jakarta, 11 Januari 2019

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Senin, 7 Januari 2019, aku pergi ke kota Jayapura, dari Jakarta naik pesawat selama 2 jam sampai Makassar dan lanjut lagi 3 Jam dari Makassar ke Kota Jayapura (“Lebit tepatnya, Bandar Udara Sentani”). Ya, karena ada kerjaan di sana, jadi aku dikirim ke sana.

Setelah sampai di Kota tersebut, lebih tepatnya sebelum pesawatnya mendarat, pemadangannya sangat luar biasa. Banyak gunung yang terlihat dan dibeberapa gunung tersebut, terlihat hanya seperti padang rumput tanpa pepohonan.

Setelah sampai di Bandar Udara tersebut, aku dijemput sama Ibu Widia, Manager Cabang untuk perusahaan anak cabang yang ada disana. Beliau sangat baik, itu yang aku ketahui selama di sana, karena kasihan, beliau harus menjemput dan mengantarku dari kantor ke hotel yang jaraknya kalau mau dibilang, itu lumayan jauh. Ya, kira-kira hampir 40 menit perjalanan, dikarenakan hotel tempat aku menginap ada di Kota Jayapura, sedangkan kantornya ada ditengah-tengah antara Kota Jayapura dan Sentani.

Untuk makanan, kayaknya aku membuat Beliau sedikit pusing, karena aku bukan vegetarian, tapi aku tidak makan daging dan ikan atau sejenisnya, jadi kalau mau dibilang, sedikit pusing nyari makanan yang seperti itu di kota tersebut.

Di dalam perjalanan dari kantor ke hotel atau sebaliknya selama 3 hari di sana (“Senin, Selasa dan Rabu”), satu yang aku rasakan ialah Suasananya sejuk dalam perjalan, pemandangannya sangat memanjakan mata untuk mereka yang baru singgah di sana. Ya, itu belum Raja Ampat (“Gimana ya kalau di Raja Ampat?”).

Jika jalan di siang hari, suasananya sangat panas. Ya, panas sekali itulah yang terasa pada waktu aku di sana dan itulah sebabnya aku enuliskannya disini.

Suasana hatiku pada saat berada di Kota Jayapura ialah aku merasa sangat nyaman sekali, aku merasa seolah-olah aku sudah berada ditempat yang tepat, berada di kampung halamanku sendiri. Ya, sekalipun aku tahu bahwa itu bukanlah tempat atau daerahku, tapi dengan melihat orang-orang atau warga asli di sana yang kulitnya, rambutnya, gayanya sama dengan orang-orang timur, aku merasa bahwa aku sudah dikampungku sendiri.

Itulah yang aku rasakan dan yang muncul dalam hatiku dan juga pikirku pada saat itu.

Satu pertanyaanku yang muncul dalam benakku saat ini ialah Jika ditempat orang aku merasakan demikian, bagaimana jika ditempatku sendiri, tempat kelahiranku, tempat dimana ari-ariku dikuburkan? Ya, mungkin seperti itu.

“Alor, Alor. Pulau kecil yang jauh disana, aku tahu engkau tak membutuhkanku, karena engkau sudah sempurna dengan apa yang telah engkau miliki sekarang. Banyak orang-orang hebat yang akan membuatmu menjadi hebat. Semoga suatu saat nanti, aku yang tidak engkau butuhkan ini, dapat melihatmu sekali saja secara langsung, seperti saat dimana aku melihatmu untuk yang terakhir kali, ketika aku meninggalkanmu.”

Ya, ALOR – Nusa Tenggara Timur adalah tempat dimana aku lahir dan tempat dimana ari-ariku dikuburkan. Tempat dimana terdapat banyaknya suanggi, tapi aku selalu ingin untuk dapat melihatnya secara langsung, walaupun hanya untuk beberapa menit dan untuk yang terakhir kalinya.

Ya, itulah catatan kecilku, catatan yang yang sempat terpikirkan ketika aku pulang dari kota Jayapura.

Hal lain yang sempat terlihat dan masih teringat jelas dalam benak ini ialah Jembatan Holtekamp yang baru saja dibangun disana. Ya, saat berada disanalah dan itulah saat pertama kali aku melihat jempatan yang sangat bagus ini secara langsung. Jembatan yang membuat akses penghubung antar beberapa tempat yang biasanya ditempuh dengan waktu yang lama, dapat dilakukan dengan cepat.

Ya, terima kasih untuk Pemerintah sekarang, itulah yang ingin aku katakan juga, karena mereka tidak hanya melakukan apa yang mereka pikirkan, tapi mereka juga bisa melakukan apa yang dipikirkan oleh rakyatnya, sesuatu yang diinginkan oleh masyarakatnya, yang membuat masyarakatnya merasa bahwa pemeritah masih ada.

Ya, mungkin seperti itu dan seperti itulah catatan untuk hari ini. Sekian dan salam untuk catatan kehidupan ini.