Belajar Dari Diri Sendiri

Selasa, Juli 28th, 2015
163 views 0 Comments

Belajar dari diri sendiri adalah apa yang ingin untuk dicatat hari ini, sebagai bagian dari catatan kehidupan.

Belajar dari diri sendiri adalah hal yang perlu dilakukan sebelum belajar dari orang lain, karena diri sendiri terkadang lebih jujur untuk mengajari kita tentang sesatu yang seharusnya dan tidak seharusnya di lakukan.

seperti contoh sederhana saja adalah sifat, entah itu sifat marah, kesal, baik, bijak dan sebagainya.

terkadang ( terkadang yah ), kita bisa menentukan di sifat mana kita berada, ketika ada hal-hal yang mungkin diinginkan atau tidak diinginkan terjadi dalam hidup ini.

yah, cara menentukannya itu sederhana, cukup catat kata apa atau apa yang pertama kali terpikir dalam pikiran kita ketika hal tersebut telah terjadi atau baru saja terjadi.

yah, begitulah cara untuk menentukan di posisi mana sifat kita berada.

Akan tetapi bukan berarti itu adalah final-nya atau akhiran dari hasil yang menentukan sifat kita. tidak, itu bukan hasilnya.

setelah kita tahu di posisi mana sifat kita berada, kita harus biarkan itu mengalir dalam hati dan pikiran kita, hingga akhirnya kita dapat sesuatu di bagian akhir, inilah yang dinamanakan keputusan akhir.

yah, dan disinilah kita bisa menentukan di sifat manakah kita berada.

ada 2 hal yang kadang terjadi di keputusan akhir, yaitu:

1. Sifat dari awal di pertahankan dan tidak ingin untuk berubah.

2. Ingin berubah, ingin mengontrol sifat yang ada ( kalau sifat itu buruk ).

yah, mungkin 2 hal di atas yang terjadi di akhir yang dapat menentukan di sifat mana kita berada.

yah, ini bukan hanya sekedar catatan yang hanya asal dicatat, ini adalah sebuah perjalanan yang pernah saya jalani, dimana saya sendiri mencoba dari diri ini untuk mengenal sifat saya sendiri.

setelah kejadian awal terjadi,  ada yang memang langsung terpikir dan tersimpan dalam hati dan pikiran ini, sehingga itu terkadang membuat saya sendiri bisa tahu, ternyata saya ini sifatnya seperti ini.

yah, sehingga seiring dengan berjalannya waktu, saya mencoba untuk me-manage atau mengatur pikiran saya, sehingga kalau itu adalah pikiran yang buruk, maka saya langsung menghapusnya dan selalu mengatakan “All Is Well”.  yah, tapi kalau itu baik, saya belajar untuk membiarkannya terus mengalir, sehingga saya bisa mendapatkan hal yang baik pula, bukan hanya untuk diri ini, melainkan untuk orang-orang di sekitar saya.

Dan di sinilah saya bisa merasakan bahwa ternyata:

Mengontrol Pikiran itu lebih sulit dibandingkan dengan mengontrol sebuah kendaraan yang baru dipelajari.

Yah, mungkin seperti itu, akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa untuk mengontrolnya, tidak, kita masih bisa untuk mengontrolnya, dimana kita bisa belajar untuk membuat hal yang sulit sekalipun menjadi mudah dengan cara membiasakannya ( membiasakan mengontrol yang buruk ).

yah, mungkin seperti itu.

Sekian dan salam buat catatan hari ini.