Menang Diatas Angin

Kamis, Desember 18th, 2014
237 views 0 Comments
Menang diatas angin
adalah
kata sementara untuk orang yang menang
pada pertengahan sebuah pertandingan
namun 
pada akhirnya atau hasil akhirnya ia kalah.
cerita ini berasal dari sebuah pengalaman,
hingga akhirnya bisa mendapatkan sebuah kata seperti ini :
 
ketika terdapat sebuah kesempatan
untuk berdiri diatas,
jangan pernah untuk gunakan kesempatan tersebut
untuk merendahkan yang dibawah,
karena
yang sebenar-benarnya sebuah kehidupan
ialah
selalu berputar,
itulah sebabnya Tuhan menciptakan bumi ini berbentuk bulat,
agar
yang dibawah bisa merasakan nikmatnya diatas
dan 
yang diatas pula bisa merasakan
bagaimana kalau hidup dibawah.
cerita ini pertama dimulai dari sebuah kisah
“Mengikuti Lomba LCC 4 Pilar Berbangsa dan Ber-Negara Tingkat Propinsi”,
dimana
jika ada tim yang memenangkan LCC ini, maka akan secara langsung
mendapatkan tiket penerbangan
ke Jakarta dari Anggota MPR atau yang hadir
untuk 
mengikuti LCC tingkat Nasional.
1 Team terdiri dari 10 Oran,
dimana dari anggota-anggota ini memiliki bagian masing-masing yang harus dikuasai.
Dari awal pertandingan ( Babak Penyisian ),
kami menguasai hingga pertandingan atau LCC ini berakhir.
Pada babak selanjutnya ( Keesokan harinya ),
kami melawan SMA Tinambung ( tidak tahu SMA berapa itu )
dan
1 SMAN 2 Pasangkayu ( 1 Tempat perwakilan kabupaten “Mamuju Utara” )
Sama seperti biasa,
awalnya kami menguasai pertandingan,
tapi sampai di pertengahan,
kami mulai jatuh
dan 
akhirnya benar terjatuh.
dan
SMA Tinambung yang berhasil masuk ke Final ( mengalahkan kami di babak ke-2 )
dan
SMAN 1 Majene ( ini juga berhasil masuk ke Final )
pada saat pertandingan berakhir,
kami mendapatkan nilai atau Poin 90 ( Dengan Kekalahan ).
namun
karena Setiap pertandingan dibutuhkan 3 team,
agar
syuting-pun dapat berlangsung,
akhirnya panitia penyelenggara ( Anggota MPR )
memutuskan untuk mengambil team yang nilai akhirnya tinggi
pada akhir pertandingan babak penyisian yang ke-2
( karena ini sudah aturan jika hanya 2 team yang masuk final ).
akhirnya dari kesempatan itu,
kami termasuk dalam team yang memiliki nilai tertinggi 
dan
SMA 3 Polewali ( Kalau tidak salah )
juga memiliki nilai yang sama dengan kami.
hingga akhirnya
harus ada keputusan yang dibuat,
yaitu
akan diberikan sebuah pertanyaan kepada 2 team ini,
siapa yang cepat menjawab
maka dialah yang akan masuk ke final bersama 2 team yang telah menunggu di final.
setelah soal itu dibacakan beberapa kata saja,
akhirnya teman saya @Nurinsani Haris menangkap maksud dari peranyaan itu,
dimana pertanyaan itu adalah bagiannya.
hingga akhirnya secera respect dia mengangkat tangan dan menjawab
pertanyaan itu bagaikan kilat menyambar 
( memang seperti itu, karena cepatnya menjawab ),
dan 
pada saat itu pula team kami lolos masuk final.
Setelah dikatakan lolos masuk final,
kami sangat senang,
dan tidak ada yang bisa mengontrol kesenangan kami.
ketika final berlangsung,
“Menang diatas anging” ini, mulai tercipta,
yaitu
SMA Tinambung terlihat menganggap enteng kami 
( karena memang, mereka telah mengalahkan kami pada babak ke-2 penyisian )
dan
ketika pertandingan ini berlangsung,
babak pertama dan kedua, team kami memperoleh nilai sempurna
yaitu
“75”
kalau team dari SMAN1 Majene mendapatkan nilai kalau tidak salah 45
sedangkan untuk SMA Tinambung itu sendiri,
mendapatkan nilai 35.
disinilah mulai lagi sebuah sifat menang diatas angin mulai tercipta.
saya sendiri merasakan,
bahwa saya sudah berada dijakarta, 
dimana mata ini selalu tertuju pada sebuah piala besar yang berdiri didepan kami.
( teman saya juga mungkin merasakan hal yang sama ).
pada babak terakhir yaitu babak rebutan,
dimana pada babak ini terdapat 15 soal rebutan yang dipersiapkan untuk
mereka yang secara cepat menanggapi dan menjawab pertanyaan dari
penanya.
pada babak rebutan ini, jika benar mendapatkan poin 10,
namun
jika salah maka akan dikurang 5.
pada babak ini,
kami menguasai pertandingan,
hingga poin kami mencapai 125,
masih paling tinggi dari regu atau team yang lain.
SMAN Majene berada dibawah kami,
dan
SMAN Tinambung Berada dibawah SMAN Majene.
poin dari kedua SMA tersebut,
masih dibawah 100.
sehingga ini membuat kami lupa untuh harusnya menghitung soal yang dipertanyakan,
hingga akhirnya kami tak harus menjawab,
akan tetapi jika ambil posisi bertahan ( berdiam diri aja ),
pasti dan 100% kami sudah menang.
karena kesombongan dari kemenangan diatas angin ini
ada pada diri kami,
akhirnya kami terlalu menganggap enteng lawan kami pada babak ini sebelum akhir.
pemegang tombol pencet penajawab ada 3 orang,
yaitu mereka yang duduk didepan.
termasuk saya dan kedua teman saya.
pada saat soal dipertanyakan,
secara respec tombol saya pencet dan langsung balik ke teman saya
yang memiliki bagian tersebut.,
dan
dia pun langsung menjawab pertanyaan itu.
jawaban yang dijawab oleh teman saya,
akhirnya diputuskan oleh panitia
apakah 
benar atau salah,
ternyata, jawabannya itu salah.
bukan karena salah menjawab, akan tetapi jawabannya terlalu panjang.
“terlalu panjang menjadi alasan, buat jawaban ini menjadi salah”.
kami kekurangan 5 poin, hingga akhirnya poin menjadi 120
hingga akhirnya kami salah menjawab 1 soal lagi,
dan mendapat -5 lagi. jadi, poin kami sementara adalah 115.
setelah kesalahan beberapa kali itu,
akhirnya membuat kami menjadi patah semangat,
padahal tadinya sangat bersemangat “menang diatas angin”.
Sebelum masuk pertanyaan terakhir,
SMA Majene berada dibawah kami  5 Poin,
yaitu poin mereka adalah 110.
soal terakhir menjadi penentu,
lolosnya kami ke Jakarta.
ketika soal baru dikeluarkan,
team dari SMAN Majene langsung menyambarnya.
dan 
jawaban yang dikeluarkan itu diputuskan  benar oleh panitia.
hingga akhirnya kami mendapatkan kekalahan 5 poin disini,
sementara syuting berlangsung,
team kami sudah seperti kacau,
pikiran mulai kosong,
mata mulai merah,
dan air mata mulai menetes 1 per 1 hingga akhirnya syuting di pending 
beberapa menit
hingga semuanya tenang
barulah
berakhir dengan suatu penyesalan dari kesalahan yang dibuat.
kesalahannya bukan karena jawab salah,
akan tetapi
karena menganggap enteng lawan kami,
karena terlalu sombong ketika diatas,
hingga akhirnya
keangkuhan itu yang telah membuat kami jatuh.
hingga akhirnya
air mata membasahi hotel pada saat itu,
semuanya pada menangis,
setelah pulang kembali ke kabupaten kami,
1 minggu waktu yang dibutuhkan untuk melupakan kejadian itu.
bahkan masih pula ada setitik stress di kepala ini,
karena kejadian itu.
itulah pengalaman sederhana
tentang pahitnya menang diatas angin.
semoga catatan ini tetap tertulis,
walaupun dalam pikiran ini telah terhapus.