Aku Dan Dosaku

Senin, Februari 2nd, 2015
322 views 0 Comments

Berdiri diujung dunia menatap akhir,
akhir dari hari dan akhir dari segalanya.

Matahari yang sinarnya terang dan panas,
kini telah redup dan panasnya telah berubah seperti sesuatu yang mati.

Langit yang dulunya biru segar, kini telah tampak seperti langit mati.

tiada waktu untuk menoleh,
karena sekarang hanya menunggu sedetik waktu akhir.

Mimpi yang terkumpul mulai berhamburan,
bagaikan kembang api yang membanjiri langit.

Tubuh bergetar ketakutan dan pikiran bingung akan keadaan,
Karena beban yang terlalu berat dipikul untuk berlari
menghampiri pintu surga yang sebentar lagi akan ditutup.

Para malaikat hanya berdiri melihat
akan besarnya beban yang dipikul ini.

mereka tak akan membantu, karena mereka bukan pembantu.

pertanyaan mulai timbul dalam hati dan pikiran,

Akankah aku sampai didepan gerbang surga sebelum pintunya ditutup?

Akankah aku memiliki sedetik waktu saja untuk melihat megahnya surga?

Akankah ada sebutir angin surga dan wanginya masuk kedalam hidungku
dan aku menghirupnya?

Akankah ada kesempatan?

Aku semakin lelah akan beban yang ku pikul ini,
kakiku mulai tak sanggup untuk melangkah.

Aku ingin berdo’a, tapi waktu dan kesempatan untuk berdo’a telah habis.
Aku ingin menangis, tapi menangis takkan mengubah keadaanku.

Beban ini membuatku tak bisa berbuat apa-apa.

Tak ada yang bisa disalahkan,
karena aku sendiri yang mengumpulkan bebanku
dan tak mau untuk membuangnya.

Sekarang aku masih berlari,
Memaksa untuk Berlari dengan seluruh tenagaku,
Sampai akhir dimana aku lelah,
maka disitu aku menyerah.

Menyerah akan semuanya,
hingga menunggu waktu penghakiman
dan dibawa kedalam panasnya neraka dan bebankupun hilang,
tapi kini neraka menjadi tempat tinggalku,

tempat tinggal tempat penyiksaan,
dimana aku disiksa akan semuah salahku.

dosaku menertawakanku, karena ia berhasil membawa aku ke tempatnya.

tanganku, Mulutku dan semua yang ada dalam tubuhku mengkhianatiku,
mereka jujur akan segala hal, sehingga membuat hukumanku semakin berat.

aku berteriak kesakitan, tapi tak ada yang bisa membantuku.

aku menagis dan terus menangis dalam hari awalku sampai selamanya.

tapi air mataku tak pernah keluar karena panasnya neraka yang kurasakan.

aku rasa aku tak sanggup menerima semuanya,
akan tetapi dari kelakuanku di bumi meyakinkan aku bahwa aku sudah siap untuk dineraka.

sampai akhirnya aku sadar, bahwa itu semua adalah imajinasiku.

masih ada kesempatan buat kembali, walaupun dosaku terlalu banyak,
minimal aku bisa membanyakan lagi seluruh kebaikanku.

agar ketika aku masuk kedalam timbangan kehidupan,
tidak akan ada beban yang lebih berat selain kebaikanku.

Sekian dan salam