11 Tahun Berlalu

Selasa, Desember 16th, 2014
251 views 0 Comments
Artikel atau catatan atau tulisan kali ini,
saya ingin menulis tentang
“11 Tahun Berlalu”,
dimana pada 11 Tahun yang lalu, tidak ada lain yang tertinggal,
melainkan sebuah rasa yang masih
tetap ada dan akan selalu ada sampai waktu ini berhenti.
Tepat tanggal 16 Desember 2003
( Waktu itu masih belum mengerti, soalnya masih terlalu kecil untuk sebuah masalah yang besar ),
sebuah rasa kehilangan mulai muncul,
ketika
seorang Ayah Tercinta Dipanggil 
oleh
Bapak Diatas Segala Bapak,
Tuhan Diatas Segala Tuhan,
dan
Raja Diatas Segala Raja.
 Tidak bisa berbuat apa-apa, soalnya kecilnya tubuh ini
dan
kecilnya umur ini
membuat diri ini hanya bisa meneteskan air mata kehilangan,
sebab
mungkin tidak akan ada kesempatan
lagi untuk bisa bercanda bersama,
bercerita bersama,
berkelahi bersama,
dan 
masih banyak lagi.
karena semuanya telah berlalu ibarat waktu kemarin
yang tak bisa di putar kembali
ketika kita telah berada di hari ini.
Awal dari hari itu adalah awal dimana sebuah kehormatan telah pergi,
dan
hanya ditemani dengan sebuah kasi sayang tanpa kehormatan
sehingga sebuah cerita pun terbentuk.
belajar sendiri,
tanpa pernah mendengar kata untuk memberikan semangat,
karena
dapat dikatakan semangat yang satu telah hilang,
hingga
perjalan hidup ini terasa tak ada imbangnya
karena hanya sebuah sayap yang masih ada,
yaitu sayap kasih sayang.
sebagai seorang yang masih kecil,
tentu hanya Tuhanlah yang dikatakan oleh seorang kasih sayang,
bahwa
dialah Bapak yang sebenarnya.
karena ia tahu,
dia mengambil Bapak yang dibumi,
agar
Ia ( Tuhan ) bisa menjadi Bapak yang Kekal buat hidup ini.
hingga
 Detik-demi detik waktu kami lewati
bersama
dengan canda maupun tawa,
walaupun
masalah demi masalah terus dan selalu berdatangan.
 Tuhan selalu tak pergi dari hidupku,
ketika saya berada dalam masalah ini,
setiap mimpi dalam tidur panjang malam,
selalu ada yang namanya Tuhan itu hadir,
hingga
suatu ketika tubuh ini pun hampir dibuat tak berdaya
oleh sebuah hal yang paling tak bisa dilarang
adalah
penyakit.
katanya sih ada yang racun ( menggunakan Ilmu ),
tapi apapun itu,
karena polosnya diri ini waktu kecil,
membuat diri ini tak pernah takut akan semua keadaan yang terjadi
hingga dapat dikatakan juga bahwa tubuh ini tak pernah jauh
dari
yang namanya Tuhan,
hingga akhirnya ketika napas ini hampir berakhir,
ada
sebuah kata yang sampai sekarang masih saya mengingatnya
yaitu
“Tuhan apa salahku, sampai aku harus terbaring seperti ini, 
aku anak yang lemah
jika memang ini kehendak-MU, 
maka biarkan jadi dalam nama-MU,
namun
jika ini bukan kehendakmu,
maka tolong bantu akhiri ini”,
dengan secara spontan kata ini terucap,
ketika 2 minggu lebih telah terbaring di ranjang
dengan
sebuah tubuh yang seolah-olah tak dapat berbuat apa-apa,
namun  
karena baiknya Tuhan, akhirnya ketika malam tiba
tubuh ini sudah mulai kembali normal dan sudah mulai 
sembuh secara bertahap.
mulai bisa berjalan dan bangun dari sebuah tempat yang namanya ranjang.
ketika  penyakit ini berakhir,
bukan masalah akan berakhir,
akan tetapi
masalah masih tetap ada
dan
masalah ini adalah
saya dan ibu  saya diusir dari rumah nenek saya 
oleh kakak kandung dari Ibu saya,
kata-katanya sangat sederhana
dan
kata ini masih teringat jelas dalam pikiran ini,
yaitu
“Titus, pergi panggil ko pung mama ko datang ambil ini barang-barang
ko
keluar dari rumah, kalau tidak ini barang-barang saya buang diluar”.
yah, kata-katanya tidak beda dari kata-kata itu,
dan
sebagai seorang anak yang masih kecil dan belum terlalu tahu banyak hal,
saya hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan,
hingga akhirnya
 kami ( saya dan ibu saya ) belajar dari sebuah kehidupan
dengan tinggal di sebuah rumah pengungsian.
beberapa bulan berlalu,
kami hidup di rumah pengungsian,
dengan makan apa adanya
dan
menyambung hidup dengan menjual kue yang disimpan diwarung-warung.
banyak keluarga,
baik dari ibu maupun ayah,
tapi
setelah sang ayah ( kehormatan ) ini pergi,
tak ada seorang keluarga pun yang menghargai betapa kecilnya tubuh ini
dan
betapa butuhnya tubuh ini terhadap mereka, bukan dengan materi,
akan tetapi dengan sapan pun hampir dikatakan
tidak pernah.
uang terbesar yang pernah saya terima
dari keluarga saya ketika tepat berada dalam tengah-tengar percobaan ini
adalah 2.000 Rupiah,
yang diberikan untuk dipake.
selain itu,
tidak ada lagi,
dan dari situ barulah saya
sadar bahwa jangankan orang lain,
saudara atau keluarga besarpun,
mereka hanya akan datang ketika kita berada diatas
dan
akan pergi dan menghilang ketika kita berada dibawah.
dan
pada masa ini juga, saya bisa memiliki kesempatan terindah lainnya ialah
bisa hidup sebagai orang yang sederhana,
dengan
belajar dari masalah yang terjadi.
sebelum mendapat kiriman
untuk pulang ke Rumah Orang Tua saya 
di Sulawesi.
hingga akhirnya inilah yang dinamakan sebuah hidup dalam kehidupan,
dimana masalah yang besar telah terjadi
selalu
ada hadiah terindah yang dipersiapkan.
catatan penting dari tulisan ini ialah
Jika anda punya seorang ayah yang saat ini masih bersama-sama dengan anda,
maka hargai Ia, sayangi Ia, buat ia selalu tersenyum,
karena itulah kehormatan anda yang sesungguhnya,
sebelum anda membentuk kehormatan sendiri bagi anda dan keluarga anda yang baru.
begitupula dengan seorang Ibu, jika anda punya seorang Ibu yang masih bersama-sama dengan anda,
maka hargai Ia, Buat Ia selalu tersenyum, karena itulah
kasisayang sesungguhnya yang perlu anda dapati dan patut untuk anda pelajari.
 akhirnya ialah inilah kenangan dari 11 Tahun Berlalu ( 16 Desember 2003)
dimana 11 tahun yang lalu tersebutlah
yang membuat
sebuah cerita manis terjadi.

*God Always Listening and Understanding