Perjalanan Imajinasi

Berjalan tanpa jejak,
Menyusuri malam tanpa bulan dan bintang.
Mentari pun tak kunjung datang,
Harapan ini seakan mau hilang rasanya.

Perlahan suara angin kudengar,
Berbisik sebuah pesan dari alam, katanya.
Aku tidak mengerti tapi bisa merasakannya,
Kenyamanan terindah yang tak dapat aku lukiskan.

Perlahan ia menamparku,
Memaksaku untuk dapat menutup mataku.
Tapi dengan tegar aku tetap melangkah,
Melawan malamku yang tak kunjung berakhir.

Ia ada tapi tak ada,
Aku merasakannya tapi tidak dapat melukiskannya.
Aku tidak tahu darimana datangnya,
Tidak tahu pula kemana perginya.

Ia adalah temanku dalam kegelapanku,
Menemaniku dengan bisikan suaranya,
Meskipun ia tak dapat ku sentuh,
Tapi ia selalu menyentuhku saat datang dan perginya.

Suara hatiku berbisik padanya,
“Tuliskanlah ceritaku dipenghujung jalanmu”
“Ingatlah aku di awal langkahmu”
“Tamparlah aku disaat engkau menemukanku”

“Sadarkanlah aku dari kehidupanku”
“Sadarkanlah aku dari malamku”
“Hentikanlah aku dalam langkahku”
“Tidurkanlah aku dalam diamku”

Hingga ketika mentari telah menyapa,
Aku tidak menemukannya.
Hingga ketika bulan telah kembali,
Aku tidak melihatnya.

Saat itulah yang paling aku inginkan,
Menutup mataku untuk semua cahaya yang pernah ada.
Dengan banggaku, aku tetap tertidur,
Dalam cahaya batinku yang tak akan pernah pudar.

Tetap melihat diriku dalam diriku,
Seperti itulah mimpi terindahku.
Yang sebenarnya engkau (“angin”) harapkan,
Agar dapat aku temukan ketika mataku telah kututup.

Terima kasih untuk waktumu,
Semoga engkau (“angin”) menjadi yang terbaik,
Pemberi kenyamanan bagi semua makhluk.
Inilah pesanku, pesan akhirku untukmu (“angin”).